Sertifikasi Guru, Penghargaan atau Penyiksaan

Pemberian sertifikasi guru memberikan angin segar kepada para guru. Pasalnya guru yang telah lulus “ajang” ini akan memperoleh tambahan penghasilan sebesar 1 kali gaji pokok. Seperti yang telah kita tahu atas perjuangan para PGRI memperjuangkan nasib para “Oemar Bakri” akhirnya pemerintah mengesahkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Dampak dari kebijakan ini salah satunya adalah penngkatan penghasilan para guru. Namun tidak serta merta pemerintah menggelontorkan dana untuk peningkatan kesejahteraan guru. Hanya guru yang telah lulus dan mempunyai sertifikat sertifikasi lah yang memperoleh insentif setiap bulan sebesar satu kali gaji pokok.

Sungguh indah nian nasib guru pada era sekarang ini. Tapi tunggu dulu, kita tengok sebentar penderitaan para guru dibalik gegap gempita sertifikasi. Sertifikasi sebenarnya adalah program yang ditujukan untuk meningkatkan keprofesionalan para guru dalam menjalankan profesinya. Menurut undang-undang Guru dan Dosen untuk memperoleh “gelar” sertifikasi ini guru bisa menempuh dua jalur. Jalur pertama yaitu jalur penilaian Portofolio dan jalur kedua menggunakan Jalur PLPG. Jalur portofolio merupakan penilaian atas berkas yang dipunyai oleh guru, para guru harus memperoleh poin 840 (jika tidak keliru) atas penilaian berkasnya dan biasanya ditempuh oleh guru yang sudah berpendidikan Strata satu (S1) dan sudah mengabdi selama 40 tahun (jika tidak salah juga). Untuk guru yang tidak lolos jalur Portofolio maka harus menempuh jalur PLPG.

PLPG atau Pendidikan Latihan Profesi Guru ditempuh ketika guru tidak lolos uji portofolio, itu awalnya. Tapi kini ditujukan untuk semua guru. Dengan program ini diharapkan agar kualitas guru meningkat dan kualitas pendidikan di Indonesia juga menunjukan trend peningkatan. Sebelum mengikuti PLPG guru harus lulus tes UKG (Uji Kompetensi Guru), kemudian di gembleng dan dikarantina selama kurang lebih 10 hari. Penggemblengan dilakukan oleh LPTK tunjukan pemerintah. Selama proses ini guru diberikan materi-materi pelatihan, seperti cara menulis, menggunakan media ajar, dll.

Tapi kenyataan tak sesuai harapan. PLPG tak lebih hanyalah program “rekayasa” untuk menghabiskan anggaran. Banyak guru yang tertekan karena ini. Cerita dari para guru yang telah mengikuti PLPG, ada guru yang stres, jam 1 malam dia sudah mandi berpakaian rapih dan bersepatu, pikirannya kalut ia pikir sudah pagi dan harus segera mengikuti kegiatan. Ada lagi yang sudah mengajukan judul berkali-kali tetap ditolak dan akhirnya terpaksa harus pingsan padahal ia seorang pria. Ada yang pulang karena sudah tidak kuat dengan beban tekanan yang terlalu berat, dan masih banyak lagi kisah yang lainnya.

Apa seperti ini cara menghargai guru yang telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk pendidikan. Apa seperti ini cara meningkatkan kualitas guru. Tidak akan pernah ada peningkatan kualitas guru hasil gemblengan PLPG, kalaupun ada pasti hanyalah rekayasa permainan angka penilaian. PLPG hanya membuat beban guru semakin bertambah. PLPG hanya membuat derita guru semakin bertambah. PLPG hanyalah proyek untuk pencairan dana agar bisa dinikmati kalangan atas. PLPG hanyalah proyek korupsi halus. PLPG hanyalah omong kosong.

Lagi dan lagi, guru kini tengah diinjak-injak, dengan dalih peningkatan profesionalan dan pendapatan.

Kalau memang tidak ikhlas meningkatkan kesejahteraan guru, “mbok” ya tidak usah saja, toh guru selama ini juga masih bisa hidup ditengah kesengsaraannya. Dari pada seperti sekarang ini.

Oemar Bakri Modern, sebagai alat korupsi secara halus.

One thought on “Sertifikasi Guru, Penghargaan atau Penyiksaan

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>